Obat Flu

Penyakit Influenza atau lebih dikenal di masyarakat sebagai flu merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat. Istilah flu sendiri seringkali juga dipakai sebagai istilah yang lazim digunakan untuk beberapa kondisi (yang serupa tapi tak sama) seperti rinitis alergi, selesma dan influenza. Ketiga-tiganya mempunyai gejala yang nampak hampir sama, yaitu gangguan pada selaput lendir hidung, sehingga hidung menjadi mampat, penderita bersin-bersin, atau mungkin pilek batuk. Akibat yang disebabkan oleh penyakit ini dirasakan sebagai gangguan yang dapat menghambat aktifitas sehari-hari. DAYA tahan tubuh seseorang akan sangat berpengaruh terhadap berat ringannya penyakit tersebut. Daya tahan tubuh dipengaruhi oleh pola hidup seseorang. Flu sendiri merupakan suatu penyakit yang self-limiting, dimana bila tidak terjadi komplikasi dengan penyakit lain, maka setelah 4-7 hari penyakit akan sembuh sendiri. Karena itu tindakan yang dianjurkan untuk meringankan gejala flu tanpa pengobatan meliputi antara lain :

Beristirahat 2-3 hari, mengurangi kegiatan fisik berlebihan

Meningkatkan gizi makanan. Makanan dengan kalori dan protein yang tinggi akan menambah daya tahan tahan tubuh. Makan buah-buahan segar yang banyak mengandung vitamin
Banyak minum air, teh, sari buah akan mengurangi rasa kering di tenggorokan, mengencerkan dahak dan membantu menurunkan demam
Sering-sering berkumur dengan air garam untuk mengurangi rasa nyeri di tenggorokan

Penyakit flu disebabkan oleh virus, oleh karena itu penanganan yang tidak tepat, selain tidak memberikan hasil optimal, juga akan meningkatkan biaya pengobatan. Sebagai contoh adalah seringnya penggunaan antibiotik untuk mengatasi penyakit ini oleh masyarakat. Penggunaan antibiotik tidak tepat karena antibiotik diindikasikan untuk insfeksi karena kuman. Disamping itu, penggunaan antibiotik yang tidak tepat akan menimbulkan dampak negatif lain berupa timbulnya resistensi terhadap kuman-kuman tertentu. Apabila diperlukan antibiotik, harus didasarkan diagnosa dokter sesuai infeksi yang menyertainya.
Jenis Obat Flu

Obat flu pada umumnya adalah obat tanpa resep dokter yang dapat diperoleh di apotek-apotek dan toko obat berizin. Obat flu umumnya merupakan kombinasi dari beberapa zat aktif, seperti kombinasi-kombinasi dari :


Analgesik/antipiretik + nasal dekongestan
Analgesik/antipretik + nasal dekongestan + antihistamin
Analgesik/antipiretik + nasal dekongestan + antihistamin + antitusif/ekspektoran

Berikut adalah zat aktif yang umumnya terdapat sebagai komponen obat flu :

1. Analgesik dan antipiretik

Secara umum obat golongan ini mempunyai cara kerja obat yang dapat meringankan rasa sakit dan menurunkan demam. Zat aktif yang memiliki khasiat analgesik sekaligus antipiretik yang lazim digunakan dalam obat flu adalah : parasetamol.

2. Antihistamin

Antihistamin adalah suatu kelompok obat yang dapat berkompetisi melawan histamin, yaitu salah satu mediator dalam tubuh yang dilepas pada saat terjadi reaksi alergi. Zat aktif yang termasuk golongan ini antara lain klorfeniramin maleat, deksklorfeniramin maleat.

3. Dekongestan hidung

Dekongestan hidung adalah obat yang mempunyai efek mengurangi hidung tersumbat. Obat-obat yang dapat digolongkan sebagai dekongestan hidung antara lain : fenilpropanolamin; fenilefrin, pseudoefedrin dan efedrin.

4. Ekspektoran dan Mukolitik

Ekspektoran dan mukolitik digunakan untuk batuk berdahak, dimaksudkan untuk mempermudah pengeluaran dahak. Zat aktif yang termasuk ke dalam kelompok ini antara lain gliseril guaiakolat, ammonium klorida, bromheksin.

5. Antitusif

Antitusif yaitu obat yang bekerja pada susunan saraf pusat menekan pusat batuk dan menaikkan ambang rangsang batuk. Zat aktif yang termasuk antitusif antara lain dekstrometorfan HBr dan difenhidramin HCl (dalam dosis tertentu).


Pemilihan obat flu

Kepada masyarakat perlu diingatkan bahwa obat flu hanya meringankan gejala saja dan tidak untuk mengatasi virus penyebab oleh karenanya penggunaan obat flu tidak ditujukan untuk jangka lama, dan jika gejala flu tidak berkurang atau semakin berat setelah minum obat flu selama 3 hari perlu segera berkonsultasi dengan dokter atau unit pelayanan kesehatan.

Saat ini cukup banyak pilihan obat flu yang beredar, baik dari macam obat serta bentuk sediaan. Macam obat ditentukan oleh macam komposisi kombinasi yang diproduksi oleh produsen, sedangkan bentuk sediaan obat flu yang beredar dapat berbentuk tablet / kaplet atau cairan.

Obat flu dapat diperoleh tanpa resep dokter, karena merupakan golongan obat bebas.




Untuk itu dalam pemilihan obat flu, diharapkan masyarakat berhati-hati, dan harus didasarkan pada gejala-gejala flu yang terjadi. Masyarakat perlu memperhatikan komposisi obat flu yang diminum agar komponen obat sesuai dengan gejala flu yang dialami, disamping karena umumnya obat flu dengan berbagai merek mengandung komposisi yang sama.

Sebagaimana obat yang lain, penggunaan obat flu dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan jika digunakan tanpa memperhatikan klim-klim yang tercantum pada kemasan wadah ataupun brosur termasuk klim-klim yang tercantum dalam kotak peringatan (box warning) dalam kemasan obat.

Masyarakat perlu mengenali efek obat yang tidak diinginkan atau efek samping obat yang mungkin dapat dapat terjadi. Efek samping obat merupakan setiap respons obat yang merugikan dan tidak diharapkan yang terjadi pada manusia karena penggunaan obat dengan dosis atau takaran normal.

Penanganan yang tepat dan rasional terhadap penyakit, termasuk flu akan meminimalkan risiko terjadinya komplikasi penyakit serta biaya pengobatan. Saat ini upaya pengobatan sendiri (self medication) di masyarakat meningkat, dan hal tersebut harus disertai pemahaman yang benar mengenai sifat-sifat obat yang digunakan, utamanya obat-obat tanpa resep dokter. Membedakan Gejala Flu dengan Gejala-Gejala lain yang serius yang Harus Diwaspadai Pada Anak Balita.

Jika anak anda menunjukkan gejala-gejala batuk-pilek, perhatikan apakah hal itu disebabkan oleh flu atau terdapat gejala-gejala lain sebagaimana berikut :


Batuk disertai napas cepat (usia 1 hingga kurang dari 5 tahun : 40 kali/menit atau lebih.)
Batuk disertai napas yang sesak atau adanya bunyi/suara saat menarik atau mengeluarkan napas
Batuk terus-menerus sampai muntah dan wajah anak kebiruan
Demam tinggi (39oC atau lebih)
Tidak mau makan karena sakit waktu menelan
Telinga sakit atau keluar cairan
Mata merah dan mata berair
Anak lesu dan atau sukar makan
Bintik-bintik merah pada kulit
Keadaan penyakit yang terjadi bertambah buruk

Jika ditemukan gejala-gejala tersebut, utamanya pada anak, segera dibawa ke dokter atau unit pelayanan kesehatan.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Anda Mengalami Batuk Pilek ?


Saat batuk pilek, posisi anak pada waktu tidur atau berbaring agar diletakkan yang nyaman, untuk menghindari berkumpulnya lendir di tenggorokan yang membuat anak menjadi batuk dan merupakan upaya untuk mengeluarkan lendir agar tidak masuk ke paru-paru. Pada keadaan ini sebaiknya anak didudukkan sebentar dan di beri minum. Tetapi jika anak masih tertidur sebaiknya jangan diganggu atau dibangunkan.
Jika disertai demam berilah segera obat penurun demam dan hindari pakaian tebal serta jangan diolesi dengan obat gosok
TIPS

Cara Penyimpanan Obat yang Benar

Jauhkan dari jangkauan anak-anak
Simpan obat di tempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari langsung
Jangan menyimpan kapsul atau tablet ditempat panas dan atau lembab karena dapat menyebabkan obat tersebut rusak
Hindarkan agar obat dalam bentuk cair tidak menjadi beku
Jangan tinggalkan obat di dalam mobil, terutama dalam jangka waktu lama karena perubahan suhu dapat merusak obat
Obat yang telah kadaluarsa segera dibuang


The possibility that AIDS patients were given acyclovir 400 mg twice daily as part of a pilot project to examine whether acyclovir reduces HIV transmission in serodiscordant couples, AIDS continues to be, should begin antiretroviral therapy (HAART), or died, 17% lower. It was delivered on the last day of the conference the International AIDS Society (IAS) to-5. The impact is statistically significant (p = 0.03).

The results came from the Partners in Prevention Study, which failed to find that giving acyclovir to AIDS patients to reduce HIV transmission to the partner (Celum). However, the study researcher Dr. Jairam Lingappa said that acyclovir may not play a role in the postponement of starting HAART.

Partners in Prevention Study provides acyclovir 400 mg or placebo twice daily for 24 months to 3408 people, two thirds are women, as partners of HIV-positive in serodiscordant relationships. The average age of women in the study was 29 years old and men 37 years, the average CD4 count was 480 in women and approximately 420 in men.

Although acyclovir does not reduce HIV transmission, the possibility of patients taking acyclovir died of trauma was not (not because of accidents or violence) is 24% lower, although it was not statistically significant (p = 0.29). Chances are they started HAART 19% lower (p = 0.06) or develop a CD4 count below 200 (p = 0.05).

Gender, CD4 count or viral load at the beginning did not make the difference in disease progression, but there was a trend towards a relationship with compliance: the possibility of people taking more than 90% of the dose will develop a combined end point above the average is 23% lower, and the possibility of people who use less than 90% develop end point was 11% higher (p = 0.13).

Does HSV-2 suppression can slow HIV disease progression in HIV-infected people who do not meet the criteria for antiretroviral therapy based on current national guidelines, says Dr. Lingappa?

Although the 17% reduction in disease progression observed is not significant, it may be combined with other interventions such cheap kotrimoksazol PCP prophylaxis, which in the study to reduce mortality from as many as 45% of HIV, and multivitamins, which reduces mortality from HIV as much as 27% . Based on these findings, acyclovir can delay the deadline until the median CD4 cell count below 350 at 6.3 months (28.8 vs. 35.1 months).



The conference participants commented that the proposal does not fit with the idea of encouraging the use of ART as much as possible to reduce transmission. "We have interventions that extend the deadline without treatment but failed to suppress transmission," said one conference participant. "Is not it a problem if the function only to extend the deadline to be contagious?"

Other conference participants criticized the exclusion of pregnant women from research, because acyclovir has a history of very safe against pregnancy, and pregnancy may be a good sign for sex without a condom. "These findings support the notion of treatment rather than delaying treatment of HIV disease progression in HIV-infected individuals with high CD4 counts," commented Dr. Lingappa.

Additional data will be available from the test of suppression of herpes in AIDS patients with CD4 counts between 300-400 which was conducted in Rakai, Uganda. Cost-effectiveness analysis and research models are also needed, he said.

Menghilangkan lemak dari perut memang gampang-gampang susah. Karena ternyata, kita tidak hanya membatasi asupan makan tapi juga harus pintar memilih minuman yang aman bagi tubuh. Salah satu yang sering dilakukan oleh mereka yang tengah menjalani program penurunan berat badan adalah meminum jus buah atau susu sebagai pengganti cemilan. Apakah ini trik yang mampu membuat jarum timbangan mengarah ke kiri?

Menurut Katherine Zeratsky, RD, LD, ahli nutrisi dari Mayo Clinic, menjadikan jus buah atau susu sebagai pengganti cemilan adalah trik yang kurang tepat. “Sebab dalam minuman tersebut terdapat kalori yang jumlahnya bisa sama banyak dengan kalori pada makan padat.”



Disamping itu, Zeratsky mengingatkan, rasa lapar dan haus diregulasi oleh tubuh dengan proses yang berbeda. Bahkan penelitian terbaru juga menunjukkan, meminum minuman tertentu sebelum atau sesudah makan, ternyata hanya memberikan sedikit pengaruh pada menghambat nafsu makan. Karena ketika kita memilih makanan yang banyak mengandung air, seperti sop atau pasta, itu telah membuat kita merasa cepat kenyang tapi tinggi kalori.

Itu mengapa, air putih adalah satu-satunya minuman yang aman dikonsumsi bagi siapapun, tidak terkecuali pada mereka yang tengah menjalani program penurunan berat badan. Tapi jika keinginan untuk menikmati jus buah tidak bisa dibendung, pastikan dalam satu hari konsumsinya tidak lebih dari 177 mililiter. Dan untuk susu, jumlahnya tidak melebihi 473 sampai 710 mililiter setiap harinya.

Sebuah penelitian baru di Inggris menunjukkan bahwa anak-anak dengan IQ tinggi, hidup lebih lama, tetapi tidak jelas apa yang memainkan peranan IQ dalam usia lanjut. Laporan ini diterbitkan dalam jurnal Pediatric edisi online, 10 Agustus 2009.

Menjadi orangtua di era digital

Studi sebelumnya telah menunjukkan sebuah hubungan antara IQ dan kematian, tetapi untuk penjelasan telah terbukti masih sukar dipahami. Para peneliti mengatakan bahwa ini merupakan pertanyaan penting karena mengidentifikasi mekanisme yang akan membantu dalam memahami asal usul ketidaksetaraan kesehatan.

Pimpinan peneliti Markus Jokela dari departemen psikologi di University of Helsinki, Finlandia mengatakan bahwa kaitan IQ dan kematian sudah muncul di awal kehidupan orang dewasa, bahkan ketika penyakit yang paling mengancam kehidupan belum umum terjadi. Jadi, peran IQ tidak hanya dibatasi untuk bagaimana orang menjadi sakit atau menanggulangi penyakit saat usia tua.

Untuk studi ini, tim Jokela mengumpulkan data dari 10.620 laki-laki dan perempuan yang ikut serta dalam British Birth Cohort Study tahun 1958 dan IQ mereka diuji ketika berumur 11 tahun. Peneliti melanjutkan penelitian pada individu sampai mereka berumur 46 tahun.

Para penyidik menemukan bahwa IQ anak-anak yang dinilai pada anak di usia 11 dapat memprediksi risiko kematian dari usia 11 sampai usia 46, sehingga risiko kematian umur dewasa adalah sekitar dua kali lebih tinggi pada individu dengan IQ rendah dibandingkan dengan mereka yang tinggi IQ (3,4 persen dibandingkan 1,7 persen, masing-masing).

Hubungan ini sebagian besar tidak tergantung pada beberapa pengukuran karakteristik perkembangan anak dan latar belakang keluarga seperti berat lahir, tinggi anak di usia 11, masalah perilaku, pekerjaan ayah, minat orang tua dalam pendidikan anak, jumlah keluarga dan kesulitan-kesulitan keluarga.

Variabel sosialdemografi dewasa seperti pendidikan, pekerjaan, status pernikahan dan perilaku sehat seperti merokok, berat, penggunaan alkohol dan gejala-gejala psikosomatik hanya menjelaskan relatif sedikit tentang hubungan IQ dengan kematian.

"Temuan ini menyiratkan bahwa IQ itu penting dalam menentukan kesehatan dan risiko kematian tak tergantung pada banyak faktor risiko kesehatan lain yang sudah mapan," ujar Jokela. "Ini merupakan panggilan bagi penelitian baru untuk mengidentifikasi mekanisme bagaimana IQ menjadi terkait dengan risiko kesehatan dan kematian."

Mungkin individu dengan IQ yang lebih tinggi menyerap informasi kesehatan penting dari pesan kesehatan masyarakat sehingga lebih sehat setiap hari dalam membuat pilihan yang tidak diambil oleh orang yang biasa.

Saat ini para peneliti memiliki pemahaman yang tidak lengkap mengenai ketidaksetaraan kesehatan yang berasal dari karakteristik psikologis individu, seperti IQ."Mengidentifikasi mekanisme ini dapat memberitahukan kepada kita bagaimana untuk merencanakan intervensi kesehatan masyarakat lebih efektif yang dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas."




Ellen deLara, seorang asisten profesor social work di Syracuse University, mengira bahwa orang tua mungkin merupakan kunci untuk hidup lebih lama, berapapun IQnya. "Perhatian dewasa/orangtua biasanya menjadi kontributor positif untuk anak muda dalam hal perkembangan dan perilaku," ujar deLara. "Hal ini berlaku untuk semua anak muda, semua kelompok sosial ekonomi, semua tingkat intelijensia." Sebaliknya, perhatian negatif orangtua dalam bentuk penolakan atau kelalaian, misalnya sesuatu yang beberapa orangtua tunjukkan terhadap anak-anak ber IQ lebih rendah, berkaitan dengan hasil buruk bagi anak-anak ini dalam hal perkembangan mereka dan perilaku mereka saat kanak-kanak dan dewasa.

Jika Anda merasa diterima (orang tua Anda tertarik dalam pendidikan dan masa depan Anda), berapapun IQ Anda, Anda akan berkembang. Jika Anda merasa bahwa Anda ditolak (orangtua Anda menunjukkan sedikit atau tidak ada minat pada Anda atau masa depan Anda), Anda tidak merasa baik tentang diri sendiri. Hal ini mempromosikan keputusan buruk dengan sendirinya. Jika kemampuan membuat keputusan Anda sudah dikompromi oleh IQ lebih rendah, hal ini tidak menjadi tanda yg baik untuk berhasil atau hidup panjang.


Angka kejadan hipertensi pada anak semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hipertensi pada anak dapat terjadi karena penyebab yang tidak diketahui (hipertensi esensial) atau dapat disebabkan oleh karena penyakit lain (hipertensi sekunder). Hipertensi sekunder lebih banyak pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa. Penyebab utama hipertensi sekunder pada anak diantaranya adalah penyakit ginjal, coarctation of the aorta, dan penyakit-penyakit endokrin.

Hipertensi pada anak diperkirakan berhubungan dengan riwayat hipertensi dalam keluarga, kelahiran dengan berat badan rendah dan kelebihan berat badan. Sebuah penelitian baru memperkirakan bahwa kualitas tidur yang buruk dapat meningkatkan tekanan darah pada remaja sehat.

Dr. Sogol Javaheri dan rekan dari Case Western Reserve School of Medicine, Cleveland, melakukan sebuah penelitian untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur yang buruk dengan prehipertensi atau hipertensi pada remaja, dan penelitian ini adalah penelitian pertama yang dilakukan dengan tujuan untuk meneliti hubungan tersebut. Penelitian ini dipublikasikan pada tanggal 18 Agustus 2008 dalam jurnal Circulation.

Dr. Javaheri mengatakan bahwa data mengenai hubungan antara peningkatan tekanan darah karena kualitas tidur yang buruk pada orang dewasa sudah banyak, sedangkan pada remaja hubungan ini belum jelas benar.

Dr Susan Redline dari Case Western Reserve, yang merupakan salah seorang peneliti senior dalam penelitian ini, mengatakan bahwa dokter jantung perlu memberikan perhatian khusus terhadap pasien yang mengalami gangguan tidur, karena gangguan tidur dianggap sebagai salah satu faktor risiko hipertensi, baik pada pasien dewasa maupun pada pasien anak dan remaja. Kualitas dan kuantitas tidur dapat mempengaruhi proses hemostasis dan bila proses ini terganggu, dapat menjadi salah satu faktor meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular. Jadi, selain modifikasi gaya hidup (pengaturan diet dan olah raga), kualitas tidur sangatlah penting dalam mempertahankan kesehatan.

Dr. Javaheri dan rekan melakukan penelitian yang melibatkan 238 remaja dengan rentang umur 13-16 tahun dan mengukur pola tidur. Pengukuran pola tidur ini dilakukan di rumah menggunakan wrist actigraphy dan di laboratorium tidur (sleep lab) menggunakan overnight polysomnography, anthropometry. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebanyak 9 kali selama 2 hari.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa remaja dengan efisiensi tidur yang buruk (sulit tidur dan sulit untuk bangun, tidur <=6,5 jam) mengalami peningkatan odds ratio untuk mengalami prehipertensi (ditentukan ≥ 90th percentile untuk umur, jenis kelamin dan tinggi). Bahkan setelah melakukan penyesuaian terhadap faktor-faktor lainnya yang berhubungan, remaja dengan pola tidur yang buruk mengalami peningkatan tekanan darah sistolik 4 ± 1,2 mmHg lebih tinggi dibandingkan dengan remaja lainnya (p<0,01)

Berdasarkan hasil peneltian ini, para ahli mengambil kesimpulan bahwa kualitas tidur yang buruk berhubungan dengan prehipertensi pada remaja sehat. Para ahli menambahkan juga bahwa penyebab gangguan tidur pada remaja-remaja yang mengikuti penelitian ini tidak diketehui dengan pasti.

Data-data yang dikumpulkan oleh para peneliti menunjukkan menurunnya jam tidur lebih dari 1 jam dalam 20-30 tahun terakhir. Faktor-faktor sosial seperti akses internet, peralatan elektronik di kamar tidur seperti televisi, jadwal sekolah yang padat, peningkatan konsumsi kafein dan faktor-faktor stres lainnya dapat mempengaruhi kualitas tidur. Dr. Redline dan rekan mengatakan perlunya penelitian lanjutan untuk menentukan strategi lebih lanjut dalam mencegah terjadinya hipertensi pada anak-anak.



Pencegahan hipertensi di masa yang akan datang bukan hanya terbatas pada program olah raga dan pengaturan berat badan, namun juga optimalisasi jam tidur. Sangatlah penting untuk memantau kualitas dan kuantitas tidur pada anak, sebagai bagian dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Penelitian ini didukung oleh The National Institutes of Health (NIH)

Kesimpulan:

* Kualitas tidur yang buruk berhubungan dengan meningkatnya risiko prehipertensi pada remaja, dan dengan demikian meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular pada usia dewasa dan lanjut.
* Kelompok remaja yang memiliki efisiensi tidur yang rendah dalam penelitian ini memiliki tekanan darah sistolik lebih tinggi (4.0 ± 1.2-mm Hg) dibandingkan dengan remaja lainnya
* Perlu penelitian yang lebih lanjut dan lebih besar mengenai hubungan antara kualitas dan kuantitas tidur terhadap tekanan darah ada anak untuk memastikan apakah kurangnya kualitas dan kuantitas tidur termasuk salah satu faktor risiko meningkatnya penyakit kardiovaskular pada usia dewasa atau usia lanjut.
* Pencegahan hipertensi pada anak-anak, remaja dan dewasa di masa yang akan datang bukan hanya terbatas pada program olah raga dan pengaturan berat badan, namun juga optimalisasi jam tidur.

Bahan pemanis pertama yang digunakan dalam sejarah adalah madu, yang digunakan dalam kebudayaan Yunani dan Cina. Seiring dengan berjalannya waktu, madu digantikan dengan sakarosa, yang diproduksi dari tebu.

Pemanis buatan yang pertama diproduksi adalah sakarin, yang dibuat pertama kali oleh Remsen dan Fahlberg pada tahun 1879. Sakarin diterima secara luas pada masa Perang Dunia ke I dan II, karena biaya produksi yang relative murah dan berkurangnya cadangan gula pada masa itu.

Setelah perang dunia, kemampuan ekonomi masyarakat mulai pulih, dan gula mulai tersedia kembali secara luas. Namun berkembangnya produksi permen gula dan industri makanan cepat saji, meningkatkan angka kejadian obesitas dalam masyarakat. Oleh sebab itulah, dengan alasan menurunkan asupan kalori dan menurunkan kejadian obesitas, pemanis buatan semakin banyak digunakan dibandingkan dengan gula biasa. Karena menguntungkan, pasar terus dibanjiri dengan produk-produk penurun kalori, sehingga penggunaan pemanis buatan semakin meningkat.

Namun apakah benar pemanis buatan dapat menurunkan asupan kalori dan menurunkan angka kejadian obesitas dan bahkan diabetes melitus?
Dalam pertemuan The Endocrine Society yang ke-91, ENDO 2009, dipresentasikan sebuah penelitian yang melaporkan bahwa orang yang mengkonsumsi pemanis buatan lebih mudah menderita diabetes melitus dan lebih mudah mengalami resistensi insulin dibandingkan dengan orang yang tidak menggunakan pemanis buatan.

Kristofer S. Gravenstein adalah peneliti utama dari penelitian ini, bekerja sama dengan the Clinical Research Branch dari National Institute of Aging (NIA), National Institutes of Health (NIH). Penelitian ini menganalisa data-data dari 1257 peserta yang terlibat dalam the Baltimore Longitudinal Study of Aging (BLSA, sebuah penelitian yang dimulai sejak tahun 1958), dengan usia rerata 64,8 tahun (kisaran, 21-96 tahun). Pasien memiliki data-data pribadi mengenai asupan harian, TTGO (tes toleransi glukosa oral) dan juga pengukuran antropometrik. Penelitian dibagi dalam 3 kelompok penelitian: pengguna pemanis buatan, bukan pengguna pemanis buatan, dan kontrol. Pemanis buatan yang paling banyak digunakan adalah aspartam (paling disukai oleh 66% peserta BLSA), sakarin (13%), sukralosa (1,0%), dan kombinasi ketiganya (21%).

Gravenstein mengatakan bahwa pada saat analisa dilakukan, para ahli menemukan bahwa peserta penelitian mengkonsumsi lebih banyak lemak sebelum tahun 1983. Tahun 1983 adalah tahun dimana terjadi peningkatan penggunaan pemanis buatan dalam masyarakat Amerika Serikat. Tahun itu juga merupakan tahun di mana aspartam mendapatkan persetujuan sebagai pemanis buatan dan diet Coke mulai diperkenalkan pada masyarakat. Karena itulah, analisa lanjutan dilakukan terhadap data-data pasien dari tahun 1983.

Hasil analisa memperlihatkan bahwa bila dibandingkan dengan 550 peserta yang tidak menggunakan pemanis buatan, 443 peserta pengguna pemanis buatan berusia lebih muda, memiliki berat badan dan memiliki indeks massa tubuh yang lebih besar, walaupun mereka tidak mengkonsumsi kalori lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan pemanis buatan. Asupan lemak, karbohidrat, protein dan asupan kalori total tidak berbeda antara pengguna pemanis buatan dengan bukan pengguna.



Gravenstein juga mengatakan bahwa dalam penelitian ini, kesempatan bagi para pengguna pemanis buatan untuk memiliki kadar TTGO atau homeostasis glukosa yang normal lebih kecil dibandingkan dengan bukan pengguna. Selain itu, sehubungan dengan status glukosa, yaitu TGT (toleransi glukosa terganggu) dan/ atau GPT (glukosa puasa terganggu), pengguna pemanis buatan memiliki prevalensi terjadinya diabetes yang sama dengan pasien prediabetes. Peserta yang menggunakan pemanis buatan memiliki risiko 2 kali lipat lebih banyak terkena diabetes (8,8%), dibandingkan dengan kontrol (4,4%).

Pada analisa lebih lanjut pada subpopulasi, pada ahli membandingkan kadar insulin puasa antara 374 bukan pengguna dengan 311 pengguna pemanis buatan. Ternyata pengguna pemanis buatan memiliki kadar glukosa darah puasa yang lebih tinggi, kadar insulin puasa yang lebih tinggi dan resistensi insulin yang lebih besar. Kadar HbA1c (glycosylated hemoglobin A1C) tidak berbeda antara kedua kelompok penelitian.

Para ahli menyimpulkan sebuah hipotesa bahwa pemanis buatan berpengaruh terhadap metabolisme tubuh, melalui sel endokrin enteral, dan karena itu berkontribusi terhadap terjadinya diabetes dan/ atau obesitas. Namun hipotesa ini memerlukkan penelitian lebih lanjut dengan analisa longitudinal dan penelitian intervensi.

Kesimpulan:

* Penelitian memperlihatkan bahwa pengguna pemanis buatan lebih mudah menderita diabetes melitus dan lebih mudah mengalami resistensi insulin dibandingkan dengan orang yang tidak menggunakan pemanis buatan.
* Penelitian lanjutan diperlukkan untuk memberikan kepastian akan hipotesa ini, apalagi mengingat banyak dokter dalam praktik menganjuran pasien untuk menggunakan pemanis buatan untuk mengurangi asupan kalori.

Perkembangan bukti bahwa konsumsi kafein dapat membantu mencegah atau mengobati penyakit Alzheimer telah menerima tambahan bukti baru dari dua studi baru.

Para peneliti Florida yang melaporkan dosis harian 500 miligram kafein (setara dengan lima cangkir kopi) mengembalikan masalah dalam memori tikus yang dikembangkan mengalami gejala mirip Alzheimer. Setelah dua bulan di stimulasi, tikus kembali ke skor seperti pada tes memori seperti tikus biasa yang sama usia yang belum pernah menunjukkan tanda-tanda demensia.

Studi ini diterbitkan dalam Journal of Alzheimer's Disease edisi online 5 Juli 2009, juga menemukan bahwa pengurangan kafein setengah dosis menyebabkan tikus berlebihan beta amyloid, protein yang dihubungkan dengan karakteristik plak ditemukan di manusia dari penyakit Alzheimer, di dalam darah dan otak.

Penulis utama Arendash Gary, ahli sarah dari University of South Florida mengatakan, "Temuan baru memberikan bukti bahwa kafein dapat menjadi 'pengobatan' untuk penyakit Alzheimer, dan bukan sekadar suatu strategi perlindungan". "Itu penting karena kafein merupakan obat yang aman untuk kebanyakan orang, dengan mudah masuk ke otak, dan akan muncul pengaruhnya secara langsung pada proses penyakit."

Studi ini dilakukan di Florida Alzheimer's Disease Research Center, Tampa, yang dalam pekerjaan sebelumnya ditemukan bahwa kafein pada awal dewasa tampaknya mencegah terjadinya masalah memori, khususnya pada tikus yang diternakkan. Kemungkinan karena dorongan dari kemampuan untuk menenangkan otak yang menyebabkan peradangan beta amyloid tingkat bangkit.

Pusat penelitian ini sebelumnya juga menemukan bahwa kafein mengurangi kadar beta amyloid pada orang tua secepat pada tikus yang diternakkan untuk memiliki gejala Alzheimer.

Dalam sebuah rilis berita, Huntington Potter, direktur Florida Alzheimer's Disease Research Center, studi untuk menguji apakah kafein dapat membantu orang dengan pelemahan kognitif ringan atau awal dari penyakit Alzheimer yang cenderung mengikuti.


Mengkonsumsi kafein 500 miligram sehari tidak akan menimbulkan dampak buruk bagi sebagian besar orang, namun Arendash menjelaskan bahwa orang dengan tekanan darah tinggi atau yang hamil harus membatasi asupan kafein. Tidak diketahui apakah dosis lebih kecil kafein akan bermanfaat menghasilkan efek yang sama pada tikus Alzheimer.

Dalam percobaan yang terbaru, para peneliti juga menemukan bahwa kafein tidak meningkatkan memori tikus normal seperti pada tikus Alzheimer. "Ini menunjukkan bahwa kafein tidak akan meningkatkan kinerja memori di atas kadar normal. Sebaliknya, tampak bermanfaat bagi mereka yang telah mengalami penyakit Alzheimer, "ujar Arendash.



Welcome in blog cared Health

Thank you for taking the time to visit my blog! To you that felt did not yet know about the world of the health come on here the Solution to the life of your health !

Health Cafe by Health Life You

Search This Blog

Subscribe Now: standard

Translate Language


Masukkan Code ini K1-17893D-2
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Health Care


ShoutMix chat widget